Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Seperti Aurora Borealis

Episode 06


Bismillah...


Hai temen2, gimana kabarnya nih? semoga sehat selalu yaa. Selamat bertemu kembali dengan tulisan saya, yang sejujurnya beberapa tulisan2 di blog ini merupakan penjelasan lebih mendalam terhadap topik2 yang pernah saya singgung di sosial media lain. Kali ini saya mengangkat topik yang sebetulnya pernah saya bahas sedikit di Instagram, yaitu tentang menikah. "Kok judulnya beda sama pembahasannya?" (pasti ada yang nanya gitu haha), tadinya sih saya mau ngasih judul KAPAN NIKAH?, cuma saya pikir pasti akan ada hati yang tersakiti ketika membaca pertanyaan tersebut 😎. Sebenernya judul yang ini pun akan ada hubungannya dengan bahasan kali ini, makanya baca sampe tamat yah, haha.


Sebelum saya masuk ke pembahasan menikah, saya mau bahas sedikit tentang berita duka dari persepakbolaan Indonesia. Pada pertandingan Persib vs Persija yang digelar pada hari ahad, 23 September 2018 (banyak orang nganggap dua klub ini musuh abadi), ada korban yang meninggal berasal dari Jakarta, yang pada waktu itu korban pergi ke Bandung dengan niat untuk menonton pertandingan tersebut. Saya kurang tahu persis, apa yang membuat korban (The Jakmania) dipukuli oleh oknum2 (Viking/Bobotoh) hingga babak belur dan akhirnya meninggal dunia, tapi layakkah nyawa menjadi taruhan hanya karena segitunya membela klub kesayangan?. Semoga akan ada tindak lanjut dari PSSI, KEMENPORA, BOPI, serta pihak2 yang berkaitan dengan persepakbolaan di Indonesia, supaya bisa lebih baik kedepannya. Kita do'akan juga semoga almarhum diterima segala amalannya, dan meninggal dalam keaadaan husnul khatimah. Cukup dengan kabar duka tersebut ya temen2, sekarang mari bahas tentang menikah.   


Ehem, kata menikah merupakan hal yang sensitif bagi beberapa kaum, terutama bagi kaum2 yang dari segi umur sebenernya udah nikah-able, tapi karena beberapa hal, kaum2 ini belum memutuskan untuk menikah, termasuk saya ðŸ˜‡. Pertanyaan tentang "Kapan nikah?" pun akan selalu berdatangan silih berganti, seperti air hujan yang jatuh ke bumi, terutama bagi temen2 yang sering besinggungan dengan orang banyak, pasti gak akan lepas dari pertanyaan tersebut. Sebetulnya banyak jawaban yang lebih indah dan menyejukkan ketika temen2 ditanya "Kapan nikah?", saya sendiri sering menjawab "Minta do'anya aja, semoga di lancarkan dan di mudahkan", terlepas orang2 yang nanya ini sedang bercanda, ataupun serius untuk nanya. Intinya adalah temen2 harus selalu bersabar ketika ditanya pertanyaan tersebut, sampai saatnya temen2 ngasih undangan pernikahan ke mereka supaya gak nanya2 lagi tentang pernikahan.


Seperti yang saya bilang diatas, bahwa pertanyaan "Kapan nikah?" ini sangat sensitif, tercatat ada kasus pembunuhan gara2 sering ditanya "Kapan nikah?", dan masih banyak lagi kasus2 pembunuhan atau kekerasan fisik terhadap orang yang nanya pertanyaan tersebut. Ada juga kasus bunuh diri karena belum dapat jodoh, yang pastinya dimulai dari orang2 disekitar korban yang sering nanya pertanyaan tersebut, sehingga depresi lalu bunuh diri. Mungkin bagi sebagian orang pertanyaan ini sepele, tinggal jawab aja dan gak usah dibikin ribet, tapi bagi mereka yang nanya, mereka gak tahu kondisi orang yang ditanya itu seperti apa. Apakah sedang banyak masalah, sedang marah, sedang capek, sedang down, dan tiba2 ada yang nanya dengan pertanyaan yang sensitif, tentu hasilnya pasti gak akan berujung dengan baik. Hati2 terhadap lidah, lidah memang gak bertulang, tapi kalo digunain pada momen yang gak pas, lidah akan sangat tajam melebihi sebuah pisau.


Menurut saya, ada dua hal yang penting ketika membahas tentang pernikahan, yang pertama terkait umur. Gak ada aturan yang membahas umur yang ideal buat menikah, kalo kata saya sih gimana mental dan pemahamannya terhadap segala sesuatu aja dilihatnya. Bisa jadi usia 20 tahun sudah ideal untuk menikah karena mentalnya sudah OK, serta pemahamannya terkait agama, terkait pernikahan, terkait bagaimana cara dia mengambil keputusan sudah "matang", sementara bisa jadi yang usianya udah 30 tahun belum ideal untuk menikah karena mental dan pemahamannya terhadap segala sesuatu belum "matang". Dalam Islam sendiri ada hadits riwayat Bukhari yang berkaitan dengan menikah, redaksinya seperti ini:
“Kami telah diceritakan dari Umar bin Hafs bin Ghiyats, telah menceritakan kepada kami dari ayahku (Hafs bin Ghiyats), telah menceritakan kepada kami dari al A’masy dia berkata : “Telah menceritakan kepadaku dari ’Umarah dari Abdurrahman bin Yazid, dia berkata : “Aku masuk bersama ’Alqamah dan al Aswad ke (rumah) Abdullah, dia berkata : “Ketika aku bersama Nabi SAW dan para pemuda dan kami tidak menemukan yang lain, Rasulullah SAW bersabda kepada kami: “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu telah mampu berumah tangga, maka kawinlah, karena kawin dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, maka hendaklah berpuasa, maka sesungguhnya yang demikian itu dapat mengendalikan hawa nafsu.”
Sangat jelas sekali bahwa dalam Islam, para pemuda dianjurkan untuk menikah dengan syarat harus mampu berumah tangga, jika belum mampu maka lebih baik biasain untuk shaum. Kata "Mampu" di hadits ini tentu dari berbagai aspek, beberapa diantarannya adalah dari mental dan pemahamannya terhadap segala sesuatu, seperti yang sudah saya bahas sebelumnya. Ada juga pemahaman yang lahir bahwa menikah lebih cepat lebih baik, ketika melihat tabel dibawah ini:




Kedua adalah tentang tagline bahwa "Lebih baik nikah muda daripada zina." Apakah opsinya cuma dua itu aja, lebih baik nikah muda daripada zina?, seakan2 kita di giring nidji untuk memilih hanya diantara dua pilihan tersebut, kalo gak milih A yaudah milih B, maupun sebaliknya. Saya rasa kita semua berhak untuk mendapatkan opsi yang ketiga, yaitu jangan dekati zina (sambil menunggu saatnya menikah, kita perbaiki diri dulu). Jangan pernah maksain gara2 gak mau zina, temen2 akhirnya memutuskan untuk nikah muda, tanpa adanya faktor2 yang mendukung temen2 buat nikah. Ingat, ada opsi ketiga diantara kemasyhuran tagline tersebut, yang mungkin bisa menjadi pilihan yang terbaik.


Menikah merupakan perpaduan dua insan dengan background dan habit yang berbeda, maka dari itu pilih pasangan yang mirip pemikirannya dengan temen2. Ketika temen2 milih pasangan yang pemikirannya hampir sama, maka akan lebih mudah dalam menanggapi dan mencari solusi terhadap suatu masalah, walaupun background dan habitnya berbeda. Ada dua fenomena alam yang indah temen2, yang pertama adalah Aurora Borealis dan yang kedua adalah pelangi. Perbedaan diantara keduanya adalah Aurora Borealis ini jarang sekali kelihatan, karena harus menunggu kurang lebih sebelas tahun lamanya untuk bisa melihat penampakannya lagi, namun jika sekalinya muncul, Aurora Borealis ini pasti akan menggemparkan sebagian penduduk bumi. Sementara Pelangi, biasanya sering kelihatan dengan intensitas yang cukup tinggi. Nah, dalam proses menuju jenjang pernikahan, jika merujuk pada dua fenomena alam diatas, jadilah pasangan seperti Aurora Borealis, yang gak terlalu pamer sana sini, tapi sekalinya pasangan ini ketahuan oleh khalayak ramai sedang deket, itu adalah ketika pasangan ini sedang ngumumin tanggal pernikahan mereka. Sebaliknya, jangan jadi pasangan seperti Pelangi, dikit2 muncul, dikit2 di share di medsos hehe (no offense ya).


Setiap apa yang saya tulis di blog ini, murni adalah untuk mengingatkan diri saya sendiri, jika temen2 yang baca menjadi lebih paham dan lebih mengerti dengan bahasan di tiap episodenya, alhamdulillah (tandanya tulisan saya bermanfaat, hehe). Sebelum saya menutup episode kali ini, saya mau ngasih lihat Aurora Borealis, kurang lebih penampakannya seperti gambar dibawah ini.








Indah bukan?


Wallahu A'lam Bisshawab...


Post a Comment for "Seperti Aurora Borealis"