Lebih Jauh dari Bintang Tsurayya
Episode 16
Bismillah...
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
Tentu kita sangat familiar dengan hadits diatas, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam." (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
Betapa banyak kejadian yang bermula karena sebuah perkataan yang tidak baik. Lidah, mestinya menjadi bagian tubuh yang sangat di perhatikan karena seringkali dapat "menganiaya" orang lain tanpa sadar. Era ini rasanya ada bagian tubuh yang harus dijaga selain lidah, yaitu jari ketika bersinggungan dengan dunia maya. Kejadian mengenai mahasiswa Papua di Surabaya bulan Agustus kemarin menjadi contoh yang sangat pas untuk menggambarkan betapa kita harus menjaga lidah dan jari jemari kita.
Awal mula kejadian pengepungan asrama mahasiswa Papua ini bermula karena ada berita yang mengatakan bahwa mereka diduga menistakan simbol negara berupa bendera Merah Putih yang dibuang ke dalam selokan, hingga berujung pada penangkapan 43 orang mahasiswa tersebut. Hasilnya? 5 orang TNI diskors karena melontarkan kalimat yang bernada rasial kepada para mahasiswa Papua (lidah) dan 1 orang dari salah satu ormas ditetapkan menjadi tersangka karena menyebarkan berita yang tidak benar dalam grup WhatsApp (jari).
Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin ungkapan yang cocok bagi mahasiswa tersebut. Maka tidak heran keluarga mereka di Papua marah, terlepas dari ditemukannya alat kontrasepsi dan minuman keras di asrama itu. Dengan hal ini pula harusnya saya dan temen-temen dapat lebih sadar betapa bahayanya hasil perkataan (lisan) dan hasil perbuatan (tulisan) di cyberspace.
Perkataan dan perbuatan yang tidak baik juga termasuk kedalam bullying. Perkataan yang tidak baik seperti memanggil orang lain dengan kekurangan fisiknya, sebutan tertentu yang menyinggung perasaannya, maupun sindiran akan status sosialnya, rasnya, serta agamanya disebut dengan Verbal Bullying. Sementara perbuatan yang tidak baik banyak macamnya dan diantaranya dapat masuk kedalam kategori fisik (Physical Bullying), pelecehan seksual (Sexual Bullying) dan intimidasi/penindasan di dunia maya (Cyber Bullying).
Maka untuk mencegah hal-hal yang tidak baik keluar dari bagian tubuh kita, sebaiknya kita diam. Imam Suyuthi, penulis kitab Hasan as-Samat fi as-Shumti. Di dalam karya itu, Suyuthi menerangkan bahwa tuntunan diam tidak bersifat mutlak. Artinya, hendaknya seorang Muslim berbicara, tetapi tetap dalam konteks kebaikan. Diamlah bila menyangkut keburukan atau topik-topik yang sesungguhnya tidak patut dibicarakan. Hal tersebut sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika, Rasulullah SAW pergi bersama salah seorang sahabatnya, Mu'adz bin Jabal. Dalam perjalanan itu, Mu'adz bertanya, "Apakah amalan yang paling utama?" Beliau menjawab berisyarat, menunjuk ke bibirnya. "Diam, kecuali dari (adanya) kebaikan."
Adab berbicara haruslah menjadi pegangan agar kita tidak dengan mudah menyakiti yang lain, bukankah kita juga tidak mau disakiti kerena hal ini? Nah, adab berbicara pun erat kaitannya dengan adab bercanda. Bercanda merupakan selingan supaya hidup kita tidak terlalu penat selama tidak terlalu berlebihan. Rasulullah SAW pun pernah bercanda. Dari Hasan RA, dia berkata, ada seorang perempuan tua yang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, berdo'alah kepada Allah supaya memasukkanku ke dalam syurga." Rasulullah SAW menjawab, "Wahai Ummu fulan, sesungguhnya syurga itu tidak dimasuki oleh orang yang sudah tua renta."
Kemudian perempuan itu pun berpaling, lalu Rasulullah SAW bersabda, "Beri tahu dia kalau dia tidak akan masuk syurga dalam keadaan sudah tua renta. Sebab, Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya umurnya."😅 (QS Al-Waqiah: 35-37). (HR Tirmidzi).
Selain tidak berlebihan, candaan kita pun hendaknya tidak ada unsur cacian, makian maupun dusta, tidak dijadikan sebagai kebiasaan dan tidak menjadikan aspek agama sebagai candaan. Menjadi pengingat juga bagi kita untuk mengurangi candaan yang mungkin saja berujung pada tertawa yang berlebihan.
إن الرجل ليتكلم بالكلمة يضحك بها جلساءه يهوي بها من أبعد من الثريا
"Sesungguhnya seseorang akan berbicara dengan suatu kalimat (dengan tujuan) untuk membuat orang-orang yang duduk di sekitarnya tertawa, maka dia dicampakkan melebihi jauhnya bintang tsurayya." (HR. Ahmad dalam kitab Al Musnad no:8967)
![]() |
| Bintang Tsurayya (Pleiades) |
Bintang Tsurayya sendiri merupakan gugusan bintang yang dikenal dengan nama Pleiades (Yunani) dan merupakan salah satu dari gugus bintang terbuka (Open Cluster). Di India Tsurayya disebut sebagai Krittika, di Cina disebut Mao, di Jepang disebut Subaru dan di Indonesia sebagai Bintang Tujuh atau Lintang Wuluh/Lintang Kartika (Jawa). Jarak Bintang Pleiades ini kurang lebih 444 tahun cahaya, jika kita menyengajakan bercanda dengan tujuan untuk membuat orang disekitar kita tertawa terbahak-bahak, maka bersiap-siaplah ia akan dicampakkan lebih dari 444 tahun cahaya.
Tahun cahaya (disingkat TC, bahasa Inggris: light year atau ly) adalah satuan panjang yang digunakan untuk menyatakan jarak astronomis dan memiliki nilai sekitar 9,46 triliun kilometer (9,46 x 1012 km) atau 5,88 triliun mil (5,88 x 1012 mil). Nah, jika ingin mengetahui lebih lanjut berapa kilometer jarak dari bumi ke gugusan bintang Pleiades, maka silahkan hitung sendiri di rumah masing-masing yaa, hehe.

Post a Comment for "Lebih Jauh dari Bintang Tsurayya"