Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Traveler Sejati (Pengalaman ke Prau)

Episode 04


Bismillah...




Keren gak? 😂, di episode kali ini saya mau ngejelasin siapa itu traveler sejati, sekaligus mau nyeritain pengalaman saya ke Gunung Prau. Kisah ini bermula ketika saya masih duduk di bangku kuliah, ada dua orang temen saya yang nyeletuk ngajak saya untuk naik gunung. FYI, saya bukanlah orang yang mudah untuk diajak naek gunung, karena capeknya itu loh, dan entah kenapa harus mikir beberapa kali untuk mengiyakan bahwa saya mau naek gunung hehe. Sebelum ajakan ini terjadi, saya sama sekali belum pernah naek gunung, paling Gunung Geulis di Sumedang (itu bukan gunung sih sebenernya tapi bukit haha). Pada akhirnya saya mau diajak mereka berdua untuk pergi ke Prau, karena pada waktu itu saya mikir "Yaudahlah nyobain keluar dari comfort zone saya, itung2 pengalaman sekali seumur hidup naek gunung".


Setelah ngobrol ngaler ngidul, akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Prau yang berada di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah dengan tinggi 2.565 mdpl. Awalnya kami ngajakin temen2 yang lain untuk ikut, ternyata pada gak ada yang mau ikut tuh, beberapa dari mereka emang gak mau, dan beberapa dari mereka udah ada agenda sebelumnya. Karena gak ada lagi yang mau ikut, akhirnya kami berangkat ke Prau hanya tiga orang, saya sendiri, temen kontrakan saya namanya Rozzi (asli Banyuwangi, ini orang udah pro kalo masalah mendaki gunung lewati lembah), dan satu orang lagi namanya Kang Yusril (asli Medan, dia kakak kelas saya sekaligus jadi salah satu mentor saya dalam perkara kehidupan). Kami berangkat dari tanggal 15-18 agustus 2015, dengan niat sekalian ngerayain kemerdekaan Indonesia yang ke-70 sembari mau ngibarin bendera Merah Putih di puncak Prau.


Kalo saya ngejelasin perjalanan dari awal sampe akhir niscaya akan panjang tulisan ini, jadi saya skip diperjalanannya ya, dan langsung ke endingnya ketika turun dari gunung Prau. Sebelum itu, saya mau ngasih lihat beberapa foto secara urut sesuai kejadian ketika saya disana.


Saya, Kang Yusril & Rozzi, ketika pertama kali nyampe di dataran tinggi Dieng (start awal naek Prau)


Sebelum naek ke Prau, kami kulineran dulu makan Mie Ongklok, dilanjut jalan2 ke Cagar Budaya Komplek Candi Arjuna


Kami nyampe diatas Gunung Prau tanggal 16 Agustus 2015, ketika sunset (sekitar Maghrib)


Suasana tenda para pendaki di pagi hari, rame banget. Ini udah masuk tanggal 17 Agustus 2015



Ini foto ketika sunrise, udaranya dingin menusuk perasaan kulit ini


Ada hal yang menarik, akang yang paling kanan (lupa namanya), dia naek Prau sendiri tanpa bawa tenda, untung kami bawa dua tenda, jadi si akang ini nginep di tenda kami. Coba kalo gak ketemu kami kang, akang mau tidur beralaskan tanah, beratapkan langit? hehe



Kami kan gak bawa bendera Indonesia, alhasil kami minjem bendera. Kemudian kami berfoto ria mengibarkan bendera merah putih, dengan harapan semoga Indonesia lebih baik lagi dan lebih aman dalam segala hal

Itu dia sepenggal kisah saya dalam sebaris foto, ketika bertamasya di Prau. Setelah foto2, sarapan, dan beresin tenda, akhirnya kami pun turun sekitar jam 10.00 WIB, dengan para pendaki lain. Kalo turun sih lebih gampang ketimbang pas naek gunungnya hehe, dan yang paling penting adalah ketika udah ngerasa capek mending berhenti dulu, dan kasih tahu teammate-nya biar sama2 berhenti. Waktu yang ditempuh untuk turun gunung yaitu sekitar 3 jam, namun sebelum kami tiba di pos awal, kami nyampe pada spot dimana sampah2 banyak berkumpul (jaraknya kurang lebih 2-3 KM dari pos awal), alhamdulillahnya sampah ini gak berceceran. Hasil obrolan dengan warlok, diketahui bahwa sampah tersebut merupakan sampah yang berserakan di atas gunung, dan dikumpulin oleh para panitia, serta dibungkus dan disimpan di spot tersebut.


Banyak pendaki yang lewat spot sampah tersebut, tapi gak mau bawa sampah yang banyak tersebut, padahal di pos awal sudah ada notice supaya bawa sampah sampe ke pos awal, dan bagi yang bawa sampah sampe ke pos awal, akan ada reward dari panitia. Kami juga mengerti dan ngerasain, udah mah capek yah turun gunung, ini malah disuruh bawa sampah yang udah dikresekin (nambah berat), dan baunya tetep kecium walaupun udah di kresekin. Kami berhenti dulu di spot itu, akhirnya tanpa banyak drama, kami angkut sampah yang ada disana semampunya sambil ketawa2, karena pada dasarnya masing2 dari kami gampang bercanda, jadi hal yang kecil juga kadang kami ketawain haha.




Satu Karung sampah di gendong oleh dua orang pake sebatang bambu, yang lainnya bawa dua kresek sampah  di masing2 tangannya, capek+berat+bau, komplit semuanya 😃😃😃. Niat kami angkut sampah ini bukan untuk nyari reward-nya, bukan untuk gaya2an, apalagi sombong "Nih kite orang bawa sampah banyak dari gunung" (cuma gak tau ya persepsi orang pasti beda2), tapi kami mah fokus sama apa yang kami niatin dari awal, yaitu mau ngurangin sampah yang ada di daerah tersebut karena kami tahu, bahwa sampah di tempat wisata manapun pasti ada, dan merupakan suatu keharusan bagi kami selaku pendatang untuk ngurangin volume sampah yang ada di sana.


Setelah lelahnya menuruni Prau dengan membawa sampah, akhirnya sampailah kami di pos awal diiringi dengan tepuk tangan para panitia. Mereka pun langsung ngebantu kami untuk ngangkut sampah, dilanjut dengan menimbang berat sampah yang kami bawa. Oh iya, sampah2 yang diangkut kebawah sama pendaki ditimbang beratnya, dan reward yang diberikan sesuai dengan berat timbangan sampah yang dibawa, makin berat sampahnya, reward-nya pun sepertinya makin bagus. Setelah sampah kami ditimbang (lupa berapa kg sampah yang kami bawa), kami pun dapat reward tiga item dari panitia, yaitu t-shirt, ikat pinggang dan rain cover bag, serta masing2 dapet stiker tempel dan kartu mendaki Prau selama setahun gratis. Kami kemudian berfoto dengan para panitia, dengan perasaan yang cukup lega, karena bisa ngurangin sampah di daerah ini, walaupun hanya sedikit yang bisa kami bawa.




Hal unik pun terjadi ketika pembagian reward, karena masing2 dari kami ngebutuhin item yang berbeda2. T-shirt diambil sama Kang Yusril karena waktu itu bajunya kotor dan gak bawa baju cadangan, Rozzi ngambil ikat pinggang, waktu itu celananya agak melorot karena gak pake ikat pinggang, serta saya sendiri ngambil item terakhir yaitu rain cover bag, karena emang tas gendong saya gak ada rain covernya, dan seringkali kalo hujan, tas saya sering kebasahan. Untungnya kebutuhan kami beda2 ya, coba kalo semuanya sama, mungkin harus bersitegang dulu haha. Setelah itu, kami semua pulang ke terminal dilanjut dengan perjalanan ke Kota Bandung, dengan selamat dan sehat. Begitulah pengalaman saya ke Gunung Prau, yang berfokus pada ending perjalanannya yang berkaitan dengan sampah.


Sedikit saya mau membahas mengenai sampah di gunung, sebagian besar sampah ini diakibatkan oleh ulah pendaki "nakal" yang mau enaknya aja ketika tiba di gunung. Dia fokus memotret indahnya di puncak gunung, tapi dia sendiri yang tidak mengindahkan lingkungan di gunung tersebut dengan cara membuang sampah sembarangan. Data menunjukkan pada tahun 2016 terdapat 453 ton sampah dihasilkan oleh 150.688 orang pendaki pengunjung setiap tahunnya, untuk lebih lengkap silahkan baca artikel ini. Dalam artikel lain dijelaskan bahwa tak kurang dari 2,4 ton atau lebih dari 600 kantong sampah berhasil dikumpulkan dari 15 gunung di Indonesia pada gelaran operasi bersih bertajuk Sapu Jagad yang digelar pada 2015. Mencengangkan sekali bukan? Bayangkan kalo pendaki yang "nakal" ini terus bertambah, bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan gunung akan menjadi tempat sampah.


Sejujurnya kami, khususnya saya pribadi bukanlah traveler, karena yang namanya traveler, intensitas jalan2nya lebih sering, dan mungkin mereka menjadikan jalan2 ini sebagai hobi, entah ke pantai, gunung, ataupun tempat wisata lainnya. Menjadi seorang traveler haruslah tetap punya attitude yang baik dalam bertraveling, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan mengikuti aturan yang berlaku di tempat tersebut. "Innallaha jamilun yuhibbul jamal", Allah itu Maha indah dan mencintai keindahan, jadi hendaklah seorang Muslim selalu berpegang teguh pada hadits tersebut, terutama bagi seorang traveler, karena seorang traveler akan sering bersinggungan dengan berbagai tempat di muka bumi ini. Bagi saya pribadi, seorang traveler yang mampu membuat kebaikan dimanapun dia menginjakkan kaki, dia adalah seorang traveler sejati.


Wallahu 'Alam Bisshawab...


Post a Comment for "Traveler Sejati (Pengalaman ke Prau)"