Diabaikan ataukah Diberi?
Episode 12
Bismillah...
Data menurut Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Sosial (Kemensos), jumlah Gepeng hingga 2012 sebanyak 196.861 orang, terdiri dari 18.599 orang gelandangan dan 178.262 orang pengemis yang tersebar di 33 provinsi (pada saat itu), dan saya yakin dari tahun ke tahun angka itu akan terus bertambah. Fenomena ini sebetulnya sangat meresahkan kita semua, di satu sisi kita sebagai mahluk sosial dan memiliki perasaan, pasti tidak tega melihat seseorang mengemis dijalanan, terlebih jika orang yang mengemis itu ternyata seorang anak kecil yang harusnya mereka bersekolah dan bermain dengan tenang, tanpa memikirkan besok bisa makan ataupun tidak. Di sisi lain ketika kita tahu bahwa ternyata diantara mereka ada yang berpenghasilan besar, kita juga merasa "ngapain dikasih?" karena faktanya diantara mereka sebenarnya tidak benar-benar membutuhkan uang yang nominalnya sedikit dari kita.
Fenomena pengemis kaya juga sebetulnya tidak hanya terjadi di negara kita saja, di wilayah Asia maupun wilayah Eropa juga terjadi. Di Inggris dan China, pengemis bahkan mengikuti perkembangan teknologi, sebutlah Booth, salah satu pengemis asal Inggris yang menggunakan Electronic Data Capture (EDC) supaya memudahkan orang yang tidak membawa uang cash agar tetap memberi uang kepadanya. Begitupun dengan para pengemis di salah satu wilayah negara China, Shangdong yang menyiapkan Chip serta QR Code untuk orang-orang yang lewat. Bayangkan temen-temen, memberikan uang Rp. 500 atau Rp. 1.000 saja sudah membuat mereka kaya, apalagi melalui mesin elektronik? tentunya bukan nominal kecil yang orang-orang beri.
![]() |
| Beberapa pengemis di wilayah Shangdong, China https://www.boombastis.com/pengemis-canggih-luar-negeri/165230 |
"Lalu, apa solusi yang bisa dilakukan?"
Pemerintah Indonesia, tepatnya Kemensos juga sebetulnya melakukan berbagai usaha untuk mengurangi angka Gepeng, diantaranya adalah melakukan usaha preventif (penyuluhan, bimbingan, latihan, dan pendidikan, pemberian bantuan, pengawasan serta pembinaan lanjut kepada berbagai pihak yang ada hubungannya dengan pergelandangan dan pengemisan), usaha represif (menghilangkan pergelandangan dan pengemisan, serta mencegah meluasnya di dalam masyarakat), dan terakhir adalah usaha rehabilitatif (usaha-usaha yang terorganisir meliputi usaha-usaha penyantunan, pemberian latihan dan pendidikan, pemulihan kemampuan dan penyaluran kembali baik ke daerah-daerah pemukiman baru melalui transmigrasi maupun ke tengah-tengah masyarakat, pengawasan serta pembinaan lanjut, sehingga dengan demikian para gelandangan dan pengemis, kembali memiliki kemampuan untuk hidup secara layak sesuai dengan martabat manusia sebagai Warganegara Republik Indonesia).
Saya pribadi percaya bahwa pemerintah kita selalu mencoba untuk mengurangi angka Gepeng, entah melalui program pembangunan pemukiman khusus Gepeng, yang disertai alokasi Rp. 2.250.000/orang dalam setahun untuk biaya hidup, seperti di Kota Malang, Pasuruan (Jawa Timur) dan Gunung Kidul di (Daerah Istimewa) Yogyakarta, ataupun dengan Program keluarga harapan (PKH) yang akan sedikit meringankan beban kehidupan mereka dan juga beberapa program lain seperti pembinaan dan pelatihan yang sejujurnya saya tidak tahu banyak. Pemerintah sendiri tidak bisa bergerak tanpa adanya inisiatif dari rakyatnya sendiri dan ini yang mau saya tekankan pada temen-temen yang baca, bahwa kita harusnya ikut andil dalam penentasan masalah ini,berikut adalah beberapa contoh real yang dapat kita aplikasikan agar bisa membantu Pemerintah:
1. Membangun panti asuhan ataupun pesantren, seperti salah satu contohnya adalah Panti Asuhan Istana Yatim (Bekasi) dibawah binaan Yayasan Mutiara Harapan. Dengan banyaknya panti asuhan seperti ini, dapat dipastikan akan membantu Pemerintah dalam menyerap angka Gepeng di Indonesia.
2. Temen-temen bisa melakukan berbagai macam "gerakan" yang ujungnya adalah sama-sama untuk mengurangi angka Gepeng, seperti #SayNoToNgemis dari komunitas Ketimbang Ngemis. Konsep yang diangkat saya sangat setuju, dimana komunitas ini menghargai orang-orang yang masih mau bekerja (berjualan) tanpa berpikir untuk menjadi seorang pengemis, berikut penjelasannya:
1. Membangun panti asuhan ataupun pesantren, seperti salah satu contohnya adalah Panti Asuhan Istana Yatim (Bekasi) dibawah binaan Yayasan Mutiara Harapan. Dengan banyaknya panti asuhan seperti ini, dapat dipastikan akan membantu Pemerintah dalam menyerap angka Gepeng di Indonesia.
2. Temen-temen bisa melakukan berbagai macam "gerakan" yang ujungnya adalah sama-sama untuk mengurangi angka Gepeng, seperti #SayNoToNgemis dari komunitas Ketimbang Ngemis. Konsep yang diangkat saya sangat setuju, dimana komunitas ini menghargai orang-orang yang masih mau bekerja (berjualan) tanpa berpikir untuk menjadi seorang pengemis, berikut penjelasannya:
Selain gerakan tersebut, kita juga bisa melakukan gerakan lain seperti Tempat Nasi Gratis dengan jargon "Siapapun boleh mengambil, siapapun boleh mengisi", yang bisa juga dimaksudkan untuk mengurangi beban orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, sekaligus bisa sedekah langsung dalam bentuk nasi, karena jika dalam bentuk uang, khawatirnya akan digunakan pada hal-hal yang negatif.
![]() |
| Tempat Nasi Gratis https://m.hitekno.com/internet/2018/10/16/183000/mengajari-berbagi-tempat-nasi-gratis-ini-viral-di-twitter |
Lalu bagaimana Islam memandang pengemis? Saya ambil video dari kajiannya Ust.Khalid dan Ust. Buya, tapi silahkan temen-temen cari lagi referensi lain.
Wallahu A'lam Bisshawab...


Post a Comment for "Diabaikan ataukah Diberi?"