Anak Kecil dalam "3 Bagian"
Episode 14
Bismillah...
Manusia menjalani beberapa macam fase pertumbuhan dan perkembangan dalam hidupnya, mulai dari fase janin, bayi, anak kecil, remaja, dewasa, hingga pada akhirnya akan menua dan menyatu kembali dengan tanah. Pada episode kali ini, saya akan mencoba membahas mengenai fase anak kecil/anak-anak dengan rentang usia antara 1-6 tahun (early childhood) yang terhimpun dalam tiga subjudul, atau saya sebut dengan tiga bagian.
Bagian I
(Fitrah)
Seperti yang kita tahu, bahwa pada fase ini anak kecil sedang dalam tahap belajar dan mengembangkan imajinasinya atau lebih lumrahnya orang menyebut itu sebagai bermain. Wajar rasanya kita melihat anak kecil aktif bermain, mondar-mandir kesana kemari, bahkan tak jarang mereka menggunakan pensil warnanya ke tembok rumah, hanya sekedar untuk mengeluarkan sisi kreatifitasnya tanpa takut dengan konsekuensi yang akan dihadapinya. Namun sayangnya, tidak semua orang tua memahami hal ini, beberapa orangtua ada yang terganggu dengan kegiatan/kebiasaan si anak, hingga berujung dengan hal yang tidak elok.
Ketergangguan ini pun menelurkan berbagai kisah pilu, hingga sampai ada orang tua yang tega menghimpit anaknya yang berusia 3 tahun karena tidak mau diam, sementara di belahan bumi lainnya ada orang tua yang tega memukul anaknya sendiri dengan balok kayu hanya karena ingin mendisiplinkan anaknya. Banyak hal yang menjadi pemicu orang tua melakukan hal yang tidak elok seperti itu, namun sepertinya amarah merupakan hal yang mendasari perbuatan orang tua tersebut. Kesabaran nampaknya akan sangat di uji ketika kita sudah berkeluarga, tidak hanya dari pasangan hidup saja konflik itu muncul, tetapi dari buah hati jualah masalah bersumber.
Anak merupakan titipan Allah, temen-temen. Tugas kita harusnya menjaganya dengan baik dan membimbingnya supaya menjadi mahluk yang bermanfaat bagi agama, keluarga dan negaranya. Pun, ketika ada hal yang mengganggu kita karena kegiatan/kebiasaan anak kecil, harusnya tidak lantas ditanggapi dengan kekerasan fisik tapi tanggapilah dengan senyuman di sertai dengan arahan, karena semua itu merupakan fitrahnya seorang anak kecil.
Bagian II
(Masjid dan Kacamata)
Saya adalah orang yang aktif menggunakan kacamata (minus) kemanapun berpergian, termasuk ketika sedang pergi ke masjid. Jika saya tidak membawa kacamata, penglihatan saya menjadi kabur (yaiyalah) dan merasa ada yang kurang ketika berjalan, karena semua yang saya lihat menjadi tidak jelas serta sedikit berubah bentuk. Sebelum sholat berjama'ah dimulai, saya biasanya selalu melepas kacamata dan menyimpannya di sajadah ataupun lantai, karena saya merasa tidak nyaman menggunakan kacamata ketika sholat. Bukan tanpa alasan saya menyimpan kacamata diatas sajadah ataupun lantai, melainkan karena tidak ada opsi lagi.
Opsi pertama untuk menyimpan kacamata kedalam saku sangat sering saya lakukan, namun masalah muncul ketika baju yang saya pakai tidak mempunyai saku. Kedua, opsi untuk menyimpan kacamata di jendela bisa dilakukan, hanya jika memang pada saat itu shaf yang kosong adalah shaf yang berada dipinggir jendela. Terakhir, opsi untuk menyimpan kacamata di tempat yang aman namun jauh dari posisi saya sholat tidak pernah saya lakukan, karena takut lupa serta khawatir hilang ditelan bumi, hehe. Opsi terakhir yang bisa dilakukan hanyalah menyimpan kacamata tersebut diatas sajadah ataupun lantai dengan harapan kalaupun ada anak kecil yang berlarian, dia bisa melihat bahwa ada barang yang tidak seharusnya dia injak (sayangnya kebanyakan anak kecil gak nyadar, beberapa kali kacamata saya pernah ketendang 😁).
Saya jarang melihat ada orang yang sholat di masjid kemudian menyimpan kacamatanya dibawah sajadah ataupun lantai, entah karena mereka bukan pengguna kacamata, ataupun memang pada saat itu mereka sudah menyimpannya di saku baju mereka. Atas dasar itulah, saya berteori bahwa mungkin saja saya adalah sedikit dari orang-orang berkacamata yang dengan sengaja menyimpan kacamatanya diatas sajadah ataupun lantai ketika sholat. Terbantahkanlah teori tersebut tatkala saya membuka sosmed dan melihat sebuah gambar disertai penjelasan seperti dibawah ini;
![]() |
| Seseorang yang sedang cemas karena beberapa detik kedepan, kacamatanya mungkin akan terinjak 😃 https://berbagisemangat.com/kacamata-terinjak-waktu-sholat-tindakan-pria-ini-bikin-netizen-terenyuh/ |
Pernah sekali, pas sholat berjama'ah, anak cantik bin mungil dengan bahagianya berlarian kesana kemari. Abi dari anak cantik ini posisi di shaf depan saya. Lepaslah kendali si mungil ini. Lari kesana kemari, qodarallah kacamata saya terinjak olehnya, KREEEKK! Kaca terlepas, bingkai bengkok.
Sebagai manusia biasa, "setelah salam saya akan menginfokan ke Abi nya", begitu gerutu saya. Tapi sejenak saya pikir kembali mudharatnya jika saya lakukan itu;
- Abi dan Ummi nya bisa malu
- Abi nya mengganti untung kacamata saya
- Anaknya tidak diajak ke masjid lagi
- Akan ada perselisihan kecil antara Abi dan Ummi anak ini tentang penggantian ini
- Dan Bla Bla Bla lainnya.
- Saya pikir memang sudah takdir kacamata saya terinjak oleh gadis cilik ini, karena dalam satu shaf saya, ada 3 atau 4 kacamata diletakkan bersamaan di lantai dan hanya milik saya yang terinjak
- Saya ndak ingin mematahkan semangat Abi dan Ummi nya agar anaknya tetap dibawa ke masjid
- Ada rezeki penjual kacamata melalui perantara saya yang mungkin sudah berdo'a sekian lama kepada Allah agar ada yang membeli dagangannya
- Allah sedang menguji kesabaran saya
- Allah sedang menguji iman saya, bahwa saat kita sedang melakukan kebaikan pun tetap diiringi dengan ujian
Semoga semakin banyak masjid yang ramah anak dan semakin banyak malaikat-malaikat kecil bermain riang gembira di rumah Allah 😍 (Muhamad Farid Kusumadiyanto).
Sepertinya saya bukanlah kaum minoritas hehe, terbukti dengan adanya orang yang melakukan kebiasaan yang sama, bahkan dijelaskan di postingan Pak Farid tersebut bahwa "ada 3 atau 4 kacamata diletakkan bersamaan di lantai", berarti kemungkinan orang yang membawa kacamata ke masjid, biasanya menyimpan kacamatanya diatas sajadah atau lantai. Itu artinya saya tidak sendirian yang melakukan kebiasaan tersebut dan mungkin juga pertimbangannya sama dengan saya, yaitu tidak ada opsi lain untuk menyimpan kacamatanya.
Terlepas dari paragraf sebelumnya, saya mau menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh Pak Farid ini saya apresiasi, kenapa? karena saya juga tidak ingin membuat sang anak dilarang pergi ke masjid hanya karena tidak sengaja menginjak sebuah kacamata. Jika kasus itu menimpa saya pribadi dalam kondisi sekarang, saya pun akan melakukan hal yang demikian dengan pertimbangan yang sama pula. Namun, perlu juga rasanya untuk sekedar menyampaikan kepada ayahnya bahwa anaknya telah menginjak kacamatanya, dengan harapan sang ayah menjadi lebih bertanggung jawab terhadap anaknya ketika di dalam masjid, tanpa harus melarang anaknya pergi ke masjid.
Biarlah mereka merasa bahagia berada di masjid, jangan hanya karena kita dirugikan oleh seorang anak kecil, kita meminta ganti rugi kepada ayahnya yang mungkin saja akan menutup jalan anak tersebut untuk mengikuti ayahnya pergi ke masjid. Sejauh yang saya ketahui memang tidak ada larangan untuk membawa anak kecil ke masjid, senada dengan pembahasan Ustaz Khalid dalam video dibawah ini;
Biarlah mereka merasa bahagia berada di masjid, jangan hanya karena kita dirugikan oleh seorang anak kecil, kita meminta ganti rugi kepada ayahnya yang mungkin saja akan menutup jalan anak tersebut untuk mengikuti ayahnya pergi ke masjid. Sejauh yang saya ketahui memang tidak ada larangan untuk membawa anak kecil ke masjid, senada dengan pembahasan Ustaz Khalid dalam video dibawah ini;
Bagian III
(Orang Tua)
Sebelum orang tua membiasakan untuk mengajarkan anaknya pergi ke masjid, hendaklah sang anak dididik terlebih dahulu di rumah dengan gerakan-gerakan sholat dari mulai takbir hingga salam, tidak lupa juga untuk memberitahukan bahwa sholat itu satu kesatuan dari awal hingga akhir, sehingga akan mengurangi sang anak berlarian ketika jama'ah lain sedang melaksanakan sholat. Akan tetapi, jika dikhawatirkan sang anak akan "nakal" dan mengganggu jama'ah lain, maka biasakan dulu untuk melakukan sholat di rumah supaya kekhawatiran itu bisa di minimalisir.
Ajaklah anak ke masjid sebelum ia beranjak remaja hingga nantinya orang tua akan sulit untuk membiasakan mereka pergi ke masjid karena sudah mempunyai pemikiran dan pendirian sendiri. Komik @muslimshow pernah membuat karya komik strip yang berhubungan dengan orang tua, anak dan masjid;
![]() |
| Komik strip yang menjelaskan keterlambatan sang ayah untuk mengajak anakya pergi ke masjid https://www.helenamantra.com/2016/12/ajak-anak-ke-masjid.html |
Perlu dipahami temen-temen, ini bukanlah hal yang berkaitan dengan perkara halal haram. Jika ada yang setuju dengan pendapat saya dalam episode kali ini, silahkan nanti dipraktekkan. Sebaliknya, jika ada yang tidak setuju karena menganggap bahwa anak kecil akan mengganggu kekhusyukan sholatnya, silahkan sampaikan dengan cara yang baik kepada orang tua sang anak. Terakhir, saya mau menyampaikan bahwa satu dari tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah pada hari kiamat nanti adalah orang yang terpaut hatinya dengan masjid, bukankah akan lebih baik jika mengajarkan anak untuk pergi ke masjid sedini mungkin?, supaya hatinya akan terbiasa untuk terpaut dengan masjid?.
Wallahu A'lam bishawab...



Post a Comment for "Anak Kecil dalam "3 Bagian""