Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Petiklah Hikmahnya

Episode Spesial




Bismillah...


Ketika libur kuliah tiba dan kebetulan tidak berkegiatan di Bandung, saya selalu pulang ke rumah orangtua di Tasikmalaya. Sekedar melepas rindu bersama keluarga atau memang kebetulan ada beberapa agenda yang harus dihadiri merupakan alasan kepulangan saya. Waktu itu saya pulang hari Jum'at sore setelah menunaikan shalat ashar; bertepatan dengan tanggal 9 Januari 2015. Tak ada hal yang aneh selama mempersiapkan kepulangan saya, semuanya berjalan fasih dari mulai packing barang, meminta izin kepada temen kosan untuk pulang, berlanjut dengan memanaskan sepeda motor saya, hingga melengkapi diri ini dengan sarung tangan, buff (masker) serta helm. Berangkatlah saya sore itu dengan ucapan bismillah diiringi rasa suka cita karena sebentar lagi bisa rehat dari masa perkuliahan yang begitu penat.


Ada hal yang berbeda pada diri saya saat itu, entah mengapa ingin sekali memacu sepeda motor lebih cepat dari biasanya. Dua jam merupakan durasi yang umumnya ditempuh oleh orang yang melakukan safar dari Bandung ke Tasikmalaya atau sebaliknya dengan menggunakan sepeda motor. Waktu itu hati saya mengatakan, "Coba ah, hari ini pengen dua jam kurang dari kosan sampe ke rumah." Dengan dilandasi niat tersebut maka setiap ada kendaraan yang melaju di muka, saya usahakan untuk selalu menyalipnya. Sudah barang tentu saya menyalip tidak sembarangan, tetapi dengan penuh kehati-hatian dan mengikuti rambu-rambu yang telah ditentukan. Sekali lagi, tidak ada hal yang aneh pada saat itu, hingga ada kejadian yang mengerikan menginjak seperdua perjalanan.


Tatkala itu di depan saya ada sebuah sepeda motor yang di kendarai oleh bapak-bapak (Sebut saja Pak Tua) dan di depan Pak Tua tersebut ada sebuah truk yang sama-sama melaju dengan kecepatan sedang. Karena waktu itu bermaksud ingin lebih cepat sampai di rumah, saya hendak menyalip Pak Tua sekaligus menyalip truk yang berada di depannya. Setelah dipastikan jalur lain kosong, saya menyalakan lampu sein sebelah kanan sebagai tanda bahwa saya akan menyalip, mengarahkan kemudi sepeda motor ke sebelah kanan disertai menaikkan kecepatan. Ketika posisi saya persis di samping Pak Tua, entah kenapa sepeda motor Pak Tua itu tiba-tiba di arahkan kesebelah kanan, dimana saya belum menyalip sepenuhnya sepeda motor Pak Tua.


Saya sama sekali tidak mengetahui Pak Tua akan menyusul truk di depannya karena tidak melihat lampu sein sepeda motor sebelah kanannya menyala. Sementara Pak Tua juga barangkali kaget, niat dia untuk menyusul truk, terhalang oleh sepeda motor saya yang kebetulan saat itu posisinya tepat disamping sepeda motor Pak Tua. Alhasil berbenturanlah sepeda motor kami berdua, "Gedebuk!" kami berdua pun jatuh terlempar dari sepeda motor masing-masing dengan perasaan takut setengah mati. Setelah saya mendarat di aspal, dengan setengah sadar mencoba berdiri, namun saya hanya bisa duduk pasrah di tengah jalan karena lemasnya badan setelah mengalami benturan.


Selang beberapa detik, sebuah sepeda motor sport datang dari arah belakang dengan kecepatan tinggi. Pengendara sepeda motor tersebut pun sepertinya terkejut karena ada kecelakaan di depan matanya, ia tak bisa mengontrol sepeda motornya hingga akhirnya pengendara tersebut menabrak sepeda motor saya yang tergeletak di tengah jalan sampai-sampai dia pun jatuh tersungkur. Sempat terpikir jika posisi tergeletaknya sepeda motor saya tidak berada di belakang melainkan berada di depan saya, maka pengendara sepeda motor sport ini kemungkinan besar akan menabrak saya. Jantung ini berdegup kencang, karena bisa jadi dari arah belakang ataupun depan masih ada kendaraan-kendaraan yang akan datang menabrak saya, namun akhirnya saya tertolong karena saketika banyak orang yang turun ke jalan menghampiri kami bertiga.


Mereka yang turun ke jalan sepertinya kebanyakan warga daerah sana, dua orang diantara mereka langsung menggotong saya dari tengah hingga ke pinggir jalan, tak lupa mereka juga mendorong sepeda motor saya supaya tidak menyebabkan kemacetan. Saya yang lemas pada saat itu terlentang melihat langit, mencoba untuk bangkit berdiri disertai rasa sakit yang mendadak timbul disebagian tubuh saya. Beberapa menit berlalu, akhirnya saya dapat berdiri dan mencari posisi Pak Tua untuk menemuinya. Saya hadir disana sebagai orang yang tak ingin masalah kecelakaan ini dijadikan panjang dan tak ingin juga berdebat tentang siapa yang salah.


"Bapak gak apa-apa?" tanya saya sambil bersalaman dengan Pak Tua. "Gak apa-apa A, Aa sendiri gak apa-apa?" sambut Pak Tua. Sebelum saya menjawab, Pak Tua melanjutkan obrolannya, "Maaf ya A, Bapak gak lihat ada sepeda motor di kanan tadi. Makannya Bapak langsung naekin gas, mau nyusul truk." Saya pun kemudian menjawab, "Iya Pak gak apa-apa, lagian siapa juga yang mau kecelakaan di jalan raya kan Pak? hehe, ini udah takdirnya barangkali Pak." Pak Tua lantas bertanya kembali, "Aa mau kemana?" Dengan sedikit menahan rasa sakit saya membalas, "Saya mau pulang ke Tasik Pak." Pak Tua lalu menanggapi, "Oh, deket atuh A. Bapak asli dari Ciamis dan kebetulan besok sama ahad libur dari kerjaan Bapak di Bandung, jadi Bapak berniat pulang hari ini." Tanpa sadar kami larut dalam obrolan itu, kami saling lempar tanya dan tak terpikir bagi saya untuk meminta ganti rugi kepada Pak Tua yang tidak sengaja sudah menabrak saya.


Di tengah obrolan hangat tersebut, seorang pemuda datang menghampiri kami (Sebut saja Mas Young). Setelah saya pantau, ternyata pengendara sepeda motor sport tadi adalah Mas Young, pemuda yang umurnya tak jauh berbeda dengan saya. Kami salaman, lalu Mas Young langsung bertanya kepada saya dan Pak Tua yang sedari tadi mengobrol, "Gimana kelanjutannya tabrakan ini? Siapa yang mau ganti rugi?" Saya tersentak, termasuk Pak Tua, "Waduh Mas, tenang dulu. Kita obrolin baik-baik masalah ini," jawab saya. Mas Young lantas membalas, "Gini lho, sepeda motor saya rusak parah, banyak spare part yang harus diganti. Sepeda motor sport kayak gitu kan mahal service-nya." Pak Tua yang sedari tadi terlihat nyaman bersama saya, kini harus berdiam seribu bahasa. Saya lalu melanjutkan obrolan itu, "Ikhlasin aja atuh Mas, sepeda motor saya rusak, sepeda motor Bapak ini juga rusak, jadi kita sama-sama rugi. Mana ada sih Mas yang sengaja pengen kecelakaan dijalan? gak ada kan Mas?"


Mas Young ternyata hebat, ia teguh akan pendiriannya untuk meminta ganti rugi kepada kami berdua. Dengan muka lemas Pak Tua mengeluarkan dompetnya sambil menunjukkannya ke hadapan Mas Young, "Tuh Mas, kebetulan Bapak lagi gak bawa uang. Simpen aja KTP Bapak, atau nanti hari senin kita sama-sama ke kantor Bapak buat minta uangnya sebagai ganti rugi sepeda motor Mas yang rusak itu." Dengan nada ketus Mas Young menjawab, "Maaf Pak, saya butuh uangnya sekarang, soalnya sepeda motor saya mau langsung di service setelah pulang dari sini." Pak Tua terus memohon supaya uang ganti ruginya dibayar nanti namun sepertinya sulit untuk merubah pendirian Mas Young. Diam-diam saya pun mengeluarkan dompet dari ransel yang saya tenteng di tangan, terlihat di dalam dompet hitam itu hanya ada dua lembar uang kertas berwarna merah dan biru, tentu nominal ini tak akan membuat puas hati Mas Young. Setelah negosiasi dengan Mas Young tak berhasil, alhasil saya dan Pak Tua mengalah.


Saya kemudian berencana pergi ke ATM untuk mengambil uang, tanpa tahu ada atau tidaknya ATM di sekitar daerah tersebut. Sembari menahan rasa sakit, saya berjalan untuk menanyakan letak keberadaan ATM kepada warga yang tadi menolong saya, mendadak terdengar sebuah seruan dari salah seorang warga yang tertuju kepada Mas Young. Tanpa saya sadari ternyata warga daerah sana sedang menyimak obrolan kami bertiga, "Mas jangan gitu, Mas yang salah sebenernya. Siapa suruh ngendarain sepeda motornya ngebut banget. Mas juga nabrak sepeda motor Aa ini kan? Mas yang harusnya ganti rugi ke Aa ini," ujar seorang warga. Kemudian seruan datang dari arah lain, "Udah langsung pada pulang aja, keburu ada polisi dateng, nanti tambah ribet urusannya." Mendengar seruan mereka, saya senyum dalam hati, lentera yang tadinya goyah ternyata ia tegak kembali, bersinar seperti seharusnya.


Mas Young sepertinya resah, apa yang diyakininya dari awal berbeda dengan apa yang warga daerah sana lihat. Mas Young lantas mendekati kuda besinya dan pergi begitu saja tanpa ada kata-kata perpisahan kepada saya, Pak Tua maupun warga yang telah menyelamatkan nyawanya. Setelah Mas Young pergi, saya yang sedari tadi menahan sakit di kaki akhirnya melihat ke arah luka lecet yang tersegel cukup parah di kaki. Kemudian saya meminta air kepada salah seorang warga dengan tujuan untuk membasuh luka tersebut, akan tetapi salah seorang diantara mereka malah memberikan potongan batang pohon pisang sembari berkata, "A, pake ini aja, biar gak perih. Kalo pake air nanti perih banget." Saya pun menuruti perintah orang tersebut dan mengoleskan cairan yang terdapat di dalam batang pohon pisang pada luka di kaki.


Tak lama kemudian Pak Tua yang lukanya tidak lebih parah dari saya mendekat dan berkata, "A, terimakasih yah, maafin Bapak juga atas kejadian ini. Bapak pulang duluan gak apa-apa ya A? soalnya orang rumah lagi nunggu." Lantas saya jawab, "Iya pak silahkan sama-sama, hati-hati dijalannya." Bapak itu pun pergi terlebih dahulu meninggalkan saya yang masih duduk dengan luka di kaki. Bergegaslah saya juga berdiri karena langit saat itu sudah temaram, tanda malam akan segera bertamu. Saya menghampiri sepeda motor saya yang sedari tadi berdiri menggunakan standar tengah dengan kunci yang menempel pada lubang kunci kontaknya. Setelah dijajal ternyata sepeda motor saya masih bisa menyala walaupun dengan kondisi yang cukup rusak. Saya pamit kepada warga disana, tak lupa juga mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkan nyawa saya, akhirnya melajulah kembali sepeda motor butut itu.


Sekitar sepuluh meter sudah di lalui, saya lantas menutup kaca helm dan kemudian menangis sejadi-jadinya. Saya menangis bukan karena rasa sakit yang dialami; bukan pula karena sepeda motor yang rusak. Saya menangis karena jika pada hari itu memanglah ajal saya, neraka sepertinya menjadi tempat tujuan akhir saya. Sangat saya sadari bahwa diri ini belum siap untuk mati saat itu, amalan saya pun tidak lebih banyak dari dosa saya yang menggunung tinggi. Tatkala itu saya merasa lemah tidak berdaya, bak seorang bayi yang baru lahir, hanya bisa menangis ketika menginginkan sesuatu. Dengan terisak-isak, saya berucap, "Terimakasih Yaa Allah atas segalanya, hamba berjanji akan selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan akan lebih bermanfaat untuk orang lain." Selama perjalanan pulang, saya melakukan evaluasi seraya bermaksud untuk memperbaiki diri, hingga  selamatlah saya sampai di rumah orangtua dengan mata yang merah.


Begitulah cerita kepulangan saya dari Bandung ke Tasikmalaya pada kesempatan tersebut, namun ada perkara yang masih mengganjal dalam kalbu ini. Setiap safar dari Tasikmalaya ke Bandung ataupun sebaliknya, saya tidak dapat menemukan daerah bekas kecelakaan itu. Saya pun lupa posisi jatuhnya saya, Pak Tua dan Mas Young dari sepeda motor disebelah mana. Entah netra ini yang kurang telaah menemukan daerah tersebut, ataukah memang daerah tersebut berubah, yang tadinya lapangan luas dengan rumah-rumah warga diatasnya menjadi bangunan-bangunan yang tidak pernah saya kenal sebelumnya.




"Ya, betapa pecundangnya diri ini ketika ingat masa itu, masa dimana gentar akan kematian. Jika sampai hari ini saya masih menjadi pecundang, celakalah saya!"


Wallahu A'lam Bisshawab...


Post a Comment for "Petiklah Hikmahnya"