Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tentang Film Bilal bin Rabah R.A.

Episode 02


Bismillah...


Saya mulai nulis ini pagi hari, di awal2 bulan agustus dengan hawa yang cukup dingin karena BMKG bilang bahwa bulan Juli-Agustus ini puncaknya kemarau di Indonesia, ditandai dengan adanya aliran angin dingin dari Australia yang mengarah ke Asia, bahkan katanya di dataran tinggi Dieng, embun itu sampai beku. Jaga kesehatan aja ya temen2, karena nikmat sehat itu enak.


Kali ini mau ngebahas Bilal karena kebetulan sudah dibikin menjadi filmnya dalam bentuk animasi. Jujur, pertama kali saya lihat poster film animasi Bilal ini sangat terpukau (kalau di anime mah matanya jadi berbinar2 haha), karena saya suka animasi dan mungkin baru pertama kali juga yaa salah satu Sahabat Nabi dibikin kedalam bentuk film animasi layar lebar. Cuma keterpukauan itu menghilang setelah negara api menyerang ngeliat review negatif dari sebagian orang terhadap film animasi ini. Kenapa dengan reviewnya? ada apa dengan filmnya? nanti kita bahas ya. 


Sebelum saya bahas lebih lanjut tentang filmnya, kita samain dulu frekuensi terhadap Bilal ya. Saya mau ceritain Bilal dari awal hingga wafat, supaya jadi ilmu juga khususnya buat saya pribadi dan umumnya buat yang baca juga nih ya. BTW saya ringkas kisahnya Bilal ini, kalo pengen cerita yang full, silahkan cek di buku atau sumber lain. (walaupun saya ringkas juga tetep panjang ya kisahnya  hehe)


Gambar Ilustrasi Bilal bin Rabah



Bilal bin Rabah lahir di Mekah, tepatnya di daerah As-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah dan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Bilal dibesarkan sebagai seorang budak milik keluarga Bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir. Ketika Islam mulai datang di Kota Mekah dengan menyerukan kalimat Tauhid, Bilal mempercayainya dan termasuk orang2 pertama yang masuk Islam.


Seorang budak biasanya menderita siksaan, terlebih pada masa Islam baru muncul sebagai agama yang baru dan Bilal pun merasakan siksaan tersebut. Kalau seperti seorang Abu Bakar dan Ali, ketika mereka percaya kepada ajaran Muhammad SAW, mereka punya suku yang "menjaganya", sementara Bilal? hanya seorang hamba sahaya, sehingga orang2 kafir Quraisy tidak segan2 untuk menyiksanya supaya yang lain tidak lantas mengikuti ajaran Muhammad SAW.


Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya sering menyiksa Bilal. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, "Ahad." Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, "Ahad, Ahad" Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, sambil memaksa Bilal untuk menyembah Latta dan Uzza, namun Bilal tetap mengatakan, "Ahad, Ahad…." (Kalau kita di posisi Bilal, apakah kita akan bisa seperti itu?)


Akhirnya suatu ketika Abu Bakar ingin membeli Bilal dengan mengajukan penawaran, namun saat itu juga Umayyah melipat gandakan harganya. Ia mengira bahwa Abu Bakar akan mundur, tapi Abu bakar setuju. Singkat cerita tibalah masa hijrah dari Mekah ke Madinah dan ketika di Madinah Bilal satu rumah dengan Abu Bakar dan 'Amir bin Fihr. Suatu waktu mereka terkena penyakit demam dan ketika demam bilal udah reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan jernih, karena Bilal rindu akan kampung halamannya, rindu akan gunung dan lembahnya karena disanalah ia merasakan nikmatnya iman, ketika ia di siksa tetapi ia berhasil melawan hawa nafsunya sendiri.


Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang2 Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad SAW. Bilal selalu mengikuti Rasulullah SAW kemanapun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah SAW ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya. Ketika Rasulullah SAW selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.


Ketika Rasulullah SAW menaklukkan kota Mekah, waktu Zuhur pun tiba dan ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, termasuk orang2 Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat2 yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat Tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah SAW hidup. Selama itu pula, Rasulullah SAW sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, "Ahad, Ahad… (Allah Maha Esa).”


Setelah Rasulullah SAW wafat dan ketika itu juga sudah memasuki waktu sholat, sementara jasad Rasulullah SAW masih dibungkus kain kafan dan belum dikebumikan, Bilal berdiri seraya mengumandangkan azan, saat Bilal sampai pada kalimat, "Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)", tiba2 suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru. Sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari dan setiap sampai kepada kalimat, "Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)", ia langsung menangis tersedu2. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.


Bilal memohon kepada Abu Bakar As-Shidiq, yang saat itu menggantikan Rasulullah SAW sebagai pemimpin, bahwa ia tidak ingin mengumandangkan azan lagi karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu juga Bilal meminta izin untuk keluar dari kota Madinah dengan maksud berjihad di jalan Allah SWT ke wilayah Syam. Awalnya Abu Bakar sempat ragu untuk mengijinkannya, namun Bilal mendesaknya dan berkata "Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya." Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, aku benar2 membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah." Bilal menyahut, "Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah SAW wafat.” 😢😢😢


Akhirnya Abu Bakar mengijinkan Bilal untuk pergi ke syam (Suriah) dan kemudian Bilal menetap di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Satu sumber mengatakan bahwa azan terakhir Bilal dikumandangkan ketika  Bilal dikunjungi oleh Umar bin Khattab, yang meminta Bilal untuk azan satu sholat saja. Sumber lain mengatakan bahwa Bilal memimpikan Rasulullah SAW, yang kemudian bertanya "wahai Bilal, kenapa engkau tidak mengunjungiku?" Bilal kaget dan Bilal bergegas untuk pergi ke Madinah. Sesampainya di makam Rasulullah SAW, Bilal menangis hingga membasahi pipinya, tiba2 datanglah dua orang pemuda berjalan mendekat, mereka adalah cucu Rasulullah SAW Hasan dan Husain. Salah seorang dari mereka meminta Bilal untuk azan kembali. Setelah peristiwa tersebut, kemudian Bilal kembali ke Damaskus. Bilal  "sang pengumandang seruan langit"  itu tetap tinggal di Damaskus hingga ia wafat.


Kurang lebih begitulah kisah tentang Bilal bin Rabah Radiallahu 'Anhu, yang tadinya kita cuma tahu Bilal itu muazin serta kulitnya yang hitam, sekarang akan lebih tahu tentang perjalanan hidupnya ya. Saya harapkan baca lagi kisah fullnya okeh? sip. Nah, untuk bahasan film animasinya Bilal, tunggu di episode berikutnya yaa. hehe


Wallahu A'lam bishawab...


To be Continued...

2 comments for "Tentang Film Bilal bin Rabah R.A."

  1. Nuhun Pisan Ilmuna Ustadz Jenar. Semangat terus menulis ya

    ReplyDelete
  2. Kan kang arif mentor ane pas kuliah hehe, nuhun pisan juga selalu dukung. Sukses slalu buat kita.

    ReplyDelete