Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pesantren > Bank > X-Bank > Pesantren

Episode 17




Bismillah...


Sudah lama saya ingin menceritakan hal ini. Apa-apa yang saya sampaikan pada episode kali ini, mudah-mudahan dapat  menjadi ibrah bagi temen-temen yang membaca dan dapat disampaikan juga kepada mereka yang membutuhkan bacaan ini. Mohon maaf atas keterlembatan episode 17 ini, bukan tidak mau menulis lagi, namun waktu yang sempit membuat saya terbata-bata dalam menyempurnakan tulisan ini 😊


Diawali dengan inginnya diri ini menjadi anak pesantren pada saat SMA, saya pun mengutarakan hal itu kepada keluarga besar. Saya sampaikan bahwa saya ingin "Mesantren" untuk memperdalam ilmu agama, serta membiasakan diri untuk hidup seperti yang Rasulullah SAW sudah ajarkan. Namun apa yang terjadi?, tenyata niat baik itu ditolak oleh keluarga besar saya dengan alasan bahwa khawatir ketika saya masuk pesantren, saya akan di-Brain Wash dan menjadi pribadi yang berbeda dari yang biasanya. Memang, pada saat itu sedang maraknya pencucian otak yang berkedok pesantren, rohis, maupun lembaga dakwah lain yang mengatas namakan Islam.


Akhirnya dengan rasa kecewa, saya mengalah. Kecewa ini tumbuh karena hal yang saya pinta ini adalah hal baik, bukan hal yang buruk. Seandainya saya meminta hal yang buruk, lantas tertolak oleh keluarga besar, maka rasanya itu adalah hal yang sangat wajar. Mengapa keluarga besar tidak mengarahkan saya untuk tinggal di pesantren yang aman dan bebas dari doktrin-doktrin negatif? Apakah itu bukan solusi yang terbaik? Apakah salah menjadi anak pesantren pada saat itu? 


Singkat cerita saya lulus kuliah dari Bandung. Tujuan saya berikutnya adalah bekerja, walaupun di sisi lain saya ingin sekali berwirausaha, namun karena kondisi yang kurang mendukung, akhirnya saya fokus untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Saya mulai blacklist perusahaan-perusahaan yang tidak saya minati; ada unsur riba, gharar maupun maysir, dengan maksud ingin menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Semangat saya memuncak kala itu, diiringi dengan memasukkan lamaran pada setiap lowongan pekerjaan yang sesuai dengan harapan, entah itu di sekitar tempat lahir saya, diluar kota, maupun luar pulau.


Satu per satu lamaran saya hantarkan, beberapa ada yang menolak saya dan beberapa lain mengundang, namun saya gagal di dalam tahapan tesnya. Semakin hari, lelah juga rasanya tidak mendapat apa yang diingini; bekerja. Saya istirahat dulu beberapa minggu dari mencari pekerjaan dan mencoba menikmati dulu kehidupan saya sambil memikirkan apa yang harus dilakukan kedepannya.


Setelah difikirkan, ternyata memang tidak ada cara lain selain tetap mencari pekerjaan untuk menjadi pribadi yang mandiri. Karena tak kunjung mendapat pekerjaan, akhirnya idealisme saya runtuh. Saya mulai memudarkan aturan untuk tidak bekerja di perusahaan yang tidak saya minati, salah satunya seperti Bank.


Saya pun mulai melamar ke berbagai Bank, setelah beberapa minggu akhirnya ada dua panggilan diwaktu bersamaan dengan jadwal tes yang tidak bisa di-reschedule. Kemudian saya meninggalkan bank yang satu, untuk menuju bank yang lain. Entah kenapa jalannya begitu mulus. Dari 5 tahapan tes, semuanya begitu mudah dan saya optimis bisa lolos dan bekerja di bank tersebut.


Sampai akhirnya tibalah keputusan final, apakah saya lolos dan resmi akan menjadi karyawan bank ataukah harus menggigit jari lagi karena tidak bisa bekerja. Hasilnya, saya pun lolos dan bisa bekerja di bank tersebut, 99% menjadi angka yang saya miliki untuk menjadi karyawan bank tersebut, sementara 1% nya, hanya tinggal mengikuti training dan OJT yang masing-masing dilakukan selama satu pekan. Posisi yang saya dapatkan adalah CS, yang katanya kastanya lebih tinggi dibandingkan Teller 😁


Kala itu, yang selalu saya lakukan adalah meminta maaf kepada Allah bahwa saya akan bekerja di perusahaan yang jelas-jelas Allah tidak sukai. Saya berdalih bahwa ini adalah untuk mendapatkan pengalaman bekerja, tidak ada niat sedikitpun untuk bekerja selamanya di tempat tersebut dan hanya sebagai batu loncatan saja. Di hari pemberangkatan training, hati saya merasa tidak nyaman. Entah ini karena ada rasa kurang setujunya hati dengan langkah kaki saya, atau ini hanya nerveous semata.


Sampailah saya di salah satu hotel di Bandung dan bertemu dengan calon karyawan lain yang tentunya tidak hanya dari Jawa Barat saja. Hari pertama masih tidak merasa nyaman, sarapan saya tidak nikmat seperti sedia kala dan dalam hati selalu ada rasa yang tidak ikhlas dalam menjalani kegiatan tersebut. Namun hari demi hari saya lalui dengan senyuman yang tidak utuh.


Menginjak hari ke-5 di malam hari, tiba-tiba saya memutuskan untuk resign sebagai calon karyawan. Saya langsung menelpon kepada penanggung jawab training tersebut, seraya menyampaikan niatan saya untuk tidak melanjutkan proses itu. Awalnya alasan saya ditolak mentah-mentah; seperti tidak ingin melepaskan saya dari proses tersebut. Namun, karena saya keukeuh untuk tidak melanjutkan, beliau pun mengizinkan, dengan resiko bahwa saya tidak akan pernah lagi diterima menjadi karyawan di Bank tersebut. Kemudian saya melanjutkan menelpon orangtua dan mengatakan dengan tegas bahwa saya ingin keluar dari proses training tersebut.


Temen-temen pasti sudah tahu apa respon orangtua saya? Ya, orangtua saya menyuruh saya untuk mematangkan keputusan saya dan mencoba menjalani proses ini walaupun hati tidak sejalan. Betul sekali, karyawan Bank menjadi profesi idaman hampir setiap insan, menjadi karyawan bank akan disegani oleh lingkungan sekitar dan lucunya, orangtua saya juga berfikiran sama seperti itu. Setelah melakukan negosiasi yang melelahkan, akhirnya saya dibolehkan pulang walaupun saya tahu perasaan mereka kecewa, melihat anaknya yang sudah 99% diterima menjadi karyawan Bank, malah keluar begitu saja.


Esoknya saya pamit kepada calon karyawan lain serta meminta maaf kepada sang penanggung jawab pelatihan. Terlihat jelas dimata saya, mereka semua kecewa terhadap keputusan saya. Nyatanya kekuatan hati saya lebih besar ketimbang akal sehat saya. Hanya sebentuk kecil, namun kuasanya mampu menggerakkan jasad, itulah hati.


Putuslah sudah hubungan saya dengan Bank itu, ada kelegaan karena bisa keluar dari jeratnya, di sisi lain juga ada rasa takut akan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Sembari mencari pekerjaan lain, akhirnya saya mencoba keluar dari zona nyaman, yaitu berwirausaha kecil-kecilan. Bukan uang yang menjadi tujuan utama, melainkan pengalaman yang ingin saya dapatkan dari berwirausaha. Suatu hari nanti saya ingin sekali membuka usaha di bidang kuliner dengan istri saya dan membuka lowongan pekerjaan seluas-luasnya, maka setidaknya saya harus memiliki pengalaman. Lebih detail-nya silahkan baca kembali Episode ke-5 dengan judul, "Berwirausaha Kuy! YXGQ."


Singkat cerita (lagi), saya menjadi pegawai honorer di salah satu Dinas di Kabupaten Tasikmalaya. Kurang lebih 2 tahun saya bekerja disana dan bersyukur sekali banyak pengalaman yang saya dapatkan bekerja disana, entah dari ketelitian dan kerapihan mengerjakan tugas, hingga communication skill yang selalu terasah di setiap harinya. Selama 2 tahun tersebut, saya masih tetap mencari pekerjaan dengan tetap memegang idealisme saya; tidak bekerja di perusahaan yang Allah tidak sukai.


Suatu hari, saya menemukan harta karun di instagram. Harta karun itu berbentuk lowongan pekerjaan yang kemungkinan besar lingkungannya itu "Gue Banget!". Yes, itu adalah lowongan pekerjaan di Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, Subang. Tanpa fikir panjang akhirnya saya mengirimkan lamaran pekerjaan via e-mail dan Alhamdulillah, saya pun diterima di yayasan tersebut. Hingga detik ini saya banyak bersyukur, inilah pekerjaan yang saya impikan, pekerjaan dengan lingkungan yang mendukung saya untuk menjadi pribadi Muslim yang lebih baik lagi.


Bagaimana tidak, yayasan ini mendorong karyawannya untuk selalu sholat tepat waktu di mesjid, shaum sunnah, tilawah dan banyak lagi amalan-amalan yang bisa kita kerjakan dengan mudah, dibandingkan dengan bekerja di perusahaan ataupun tempat lain. Saat ini terbayang, andaikan saya masuk di bank yang saya tolak dahulu kala, mungkin saya kesulitan untuk beribadah dan melakukan banyak amalan yang baik, karena kita tahu sendiri, lingkungan bank itu berbeda, tidak bersahabat bagi orang-orang seperti saya.


Logo Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah


Nah, jika temen-temen berada di posisi saya; mendapatkan kesempatan yang besar untuk bekerja di bank, apakah akan temen-temen ambil ataukah tidak? Silahkan temen-temen tentukan sendiri, saya tidak bisa menyuruh temen-temen untuk tidak mengambil kesempatan itu, tidak pula menyuruh temen-temen untuk mengambil kesempatan itu dan menjadi karyawan bank yang sangat diagungkan oleh sebagian besar orang. Barangkali yang menulis tidak lebih baik daripada yang membaca.


Ketika kita mempercayai Allah untuk mengatur hidup kita, maka disana pula Allah akan membantu kita sesuai dengan yang kita harapkan. Ketika dulu saya ditolak untuk "Mesantren", hingga kecewa dengan keadaan tersebut, maka ketahuilah, sekarang saya bekerja sambil "Mesantren". Keinginan saya akhirnya tercapai jua setelah berdarah-darah melalui hidup yang cukup menantang. Hal ini berlaku bagi temen- temen juga, namun saya tidak tahu persis, disebelah manakah keajaiban itu akan muncul di hidup temen-temen.


Ingat selalu bahwa, "Barangkali sesuatu ditunda karena hendak disempurnakan, dibatalkan karena hendak diganti yang utama, ditolak karena dinanti yang lebih baik."


Wallahu A'lam Bisshawab...


1 comment for "Pesantren > Bank > X-Bank > Pesantren"

  1. Nemu di instagram? You're clearly making up stories.

    ReplyDelete