Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sang Qurrota A'yun

 Episode 18





Bismillahirrahmanirrahiim...


Setelah saya bekerja secara reguler, peluang untuk menulis semakin kecil bahkan hampir tidak ada. Bukan hanya masalah pekerjaan kantor saja, namun (sebagian) pekerjaan rumah tangga ditambah dengan hadirnya buah hati kami juga menjadi dalih blog ini jarang sekali di-update. Apapun peran yang kita jalani sekarang, semoga Allah selalu memberikan kemampuan dan kesehatan kepada kita sekeluarga. Aamiin...


Keluarga Kami saat Mengikuti Kegiatan Family Gathering Keuangan As-Syifa
di Lembang Park & Zoo. Ahad, 11 Desember 2022.


Tiga Perempat tahun kebelakang, kami kedatangan sosok kecil nan lucu yang sangat kami harapkan kehadirannya. Sosok kecil itu tidak langsung hadir di awal-awal pernikahan, namun menginjak setengah tahun bahtera kami berlayar, Allah baru menjawab do'a kami. Jangan tanyakan kegetiran kami ketika ditanya, "Sudah hamil belum?" atau "Sudah berapa bulan usia kandungannya?" atau bahkan pertanyaan yang lebih offensive, "Kok belum ngisi juga?". Tentu bagi saya pribadi pertanyaan tersebut sudah membuat gundah, apalagi perasaan istri yang secara fitrah lebih condong kepada perasaannya dibandingkan akalnya.


Menurut salah satu sumber, "Menanyakan kehamilan kepada teman atau kerabat kita" merupakan hal yang wajar, bahkan bagi saya adalah sebuah bentuk kepedulian kita kepada mereka, namun tidak perlu juga bertanya terlalu dalam dan jauh. Jika belum "Berisi", kita do'akan supaya Allah segera amanahkan keturunan. Jikapun sudah, maka kita do'akan supaya Allah selalu menjaga janin beserta ibunya hingga bayinya lahir ke dunia.  
 

Anak adalah anugerah, begitulah salah satu do'a yang dipanjatkan dalam QS. Al-Furqon ayat 74:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Artinya:“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” 

Memiliki anak menjadi suatu ketentraman untuk saya dan istri, walaupun kondisi saat ini kami mengurus anak hanya berdua saja diperantauan. Ada kenikmatan tersendiri ketika harus mengurus anak hanya berdua saja tanpa bantuan keluarga, dua diantara kenikmatannya adalah kami bisa menjadi orangtua yang lebih mandiri dan juga tidak adanya intervensi dari keluarga terhadap pola pengasuhan yang kami terapkan, terutama intervensi dari kakek atau neneknya.


Lantas, "Mengapa menginginkan anak?", sebuah pertanyaan yang harusnya menjadi Big Question. Jawabannya tentu tidak hanya berkutat supaya rumah menjadi meriah karena tangis dan tawa anak atau hanya sebatas merekatkan simpul pernikahan saja, lebih jauh dari itu mengapa saya menginginkan anak adalah sebagai penerus sujud saya (Abdullah), kepada Sang Khaliq yang Maha Baik. Hidup kita ini memiliki batasan, tentu tidak bisa harus selalu berdakwah; Enjoining good and forbidding wrong.

Bagi saya, dakwah itu diibaratkan tongkat dalam balapan estafet, mau tidak mau tongkat tersebut harus diserahkan kepada pelari yang berada di depan kita jika ingin sampai hingga garis finish. "Setiap Masa ada Orangnya dan Setiap Orang ada Masanya", itulah barangkali ungkapan tepat yang menjelaskan bahwa manusia tidak ada yang abadi; akan meninggalkan dunia dan berpindah ke tempat selanjutnya.

Saya menyadari bahwa dunia ini semakin hancur dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun dimulai dengan misi menghancurkan generasi muda melalui “Culture Strike” (Fashion, Food and Fun) oleh sejumlah kelompok. Ini mungkin yang menjadi salah satu alasan beberapa orang diluar sana menerapkan Childfree dalam pernikahan mereka. Menurut mereka mungkin akan lebih baik tidak memiliki keturunan, daripada memiliki keturunan namun hidup di era yang "Gelap Gulita" dan akan berdampak super negatif untuk perkembangan anaknya nanti. 


Jika kita sekejap saja melihat sejarah Islam, Shalahuddin Al-Ayyubi yang merupakan tokoh besar Islam juga lahir pada saat dunia sedang tidak baik-baik saja; Born in The Wrong Century. Tokoh yang mengalahkan pasukan Kristen pada Pertempuran Hattin dalam perang salib, yang pada akhirnya dapat merebut kekuasaan atas Baitul Maqdis atau Yerusalem setelah lebih dari 90 tahun mengalami penjajahan. Dunia yang rusak belum tentu menciptakan anak yang "Rusak" jua, jika pola pengasuhan yang diberikan kepada sang anak tepat dan sesuai dengan ajaran Islam.


Anak tergantung didikan orangtuanya, maka sebelum berusaha menjadikan anak seorang "Superhero", orangtua harus terlebih dahulu menjadi "Superhero". Seperti halnya saya dan istri yang harus selalu belajar menjadi orangtua yang baik, supaya anak kami yang bernama Fatahillah Abdurrahman Al Qanuni menjadi orang baik dan menjadi Sang Qurrota A'yun bagi kami berdua. 


Banyak hal yang ingin saya tulis disini, keterbatasan waktu menjadi jurang pemisah pada episode kali ini. Sebelum menutup episode 18 ini, saya ingin menjelaskan alasan mengapa anak kami diberikan nama Fatahillah Abdurrahman Al Qanuni, berikut penjelasannya:


1. FATAHILLAH

Fatahillah memiliki arti Kejayaan Allah, diharapkan menjadi orang yang shalih, beriman, bertaqwa dan taat kepada agamanya. Fatahillah juga merupakan nama pahlawan Muslim Indonesia yang membebaskan Sunda Kelapa (Jakarta) dari penjajahan Portugis pada tahun 1527. Fatahillah diutus langsung oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati);


2. ABDURRAHMAN

Abdurrahman memiliki arti Hamba Allah yang Maha Pengasih, diharapkan menjadi orang yang menyadari bahwa dirinya adalah Hamba dari Allah SWT, sehingga harus melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu, diharapkan juga menjadi orang yang selalu mengasihi sesama. Abdurrahman juga merupakan salah satu nama yang disunahkan untuk disematkan kepada nama anak;


3. AL QANUNI  

Al Qanuni memiliki arti Pembuat Undang-Undang/Aturan-Aturan, diharapkan menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Al-Qanuni diambil dari sebutan salah satu Khalifah/Sultan Turki Utsmani yang ke-10 (Suleyman Al-Qanuni/Suleiman The Magnificent) dengan periode kepemimpinan 1520-1566.


Wallahu a'lam Bishshawabi...

4 comments for "Sang Qurrota A'yun"

  1. MasyaAllah Tabarokallohu lakum

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah, haturnuhun Abi sudah menulis ini😍 kenangan untuk kita mengingat dikala tua nanti insyaAllaah... khususnya jejak buat anak kita🤗

    ReplyDelete